Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran Siswa Pada Sistem Pelumasan Mesin Dengan Menggunakan Metode Inkuiri Pada Kelas XI Teknik Otomotif Smk Negeri 5 Makassar

April 24, 2010

I. Pendahuluan

  1. A. Latar Belakang

Sistem pelumasan mesin pada mata pelajaran motor otomotif merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus dimiliki/ dikuasai oleh setiap siswa sekolah menengah kejuruan jurusan teknik mekanik otomotif. Oleh sebab itu, hasil belajar sebagai indikator kualitas pendidikan perlu ditingkatkan agar peserta didik yang telah menyelesaikan studinya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) cepat terserap dalam dunia kerja. Suasana pembelajaran  sistem pelumasan mesin pada mata pelajaran motor otomotif dalam hal ini teori, sering dijumpai beberapa masalah, misalnya: metode yang diterapkan oleh guru terkadang terlalu monoton terutama dalam penggunaan metode pembelajaran, yang dominan digunakan oleh guru adalah metode ceramah atau satu arah dan metode pemberian tugas.

1

Siswa belum terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran sehingga nampaknya mereka tidak termotivasi, dan hasil perolehan belajar yang dicapai sangat rendah. Kurangnya motivasi dan prestasi hasil belajar siswa telah menjadi permasalahan selama ini. Berdasarkan pengamatan secara langsung pada kegiatan pembelajaran sistem pelumasan mesin, umumnya siswa menampakkan sikap yang kurang bergairah. Ketidakpastian siswa tersebut akan berpengaruh negatif terhadap sasaran yang ingin dicapai karena akan mengakibatkan suasana kelas menjadi kurang aktif dan interaktif timbal balik antara guru dan siswa tidak terjadi. Siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa saja yang diberikan oleh guru. Hanya ada beberapa siswa saja yang merasa termotivasi untuk mengikuti pembelajaran perbaikan sistem pendingin mesin dengan sungguh-sungguh.

Kenyataan menunjukkan bahwa data perolehan hasil belajar siswa, tentang analisis gangguan dan cara mengatasi gangguan/ kerusakan sistem pelumasan  mesin pada tahun sebelumnya kurang memuaskan yaitu pada evaluasi akhir semester genap tahun 2008/2009 hanya ada 22 orang dari 40 siswa yang mencapai nilai standar kelulusan, berarti hanya (55 %) siswa yang mencapai nilai 7,00. Sedangkan tuntutan Standar Kompetensi Belajar Minimal (SKBM), siswa harus mencapai kompetensi 75% secara klaksikal. Perolehan hasil belajar siswa yang berkaitan dengan keterampilan masih kurang efektif/berhasil yaitu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Siswa belum sepenuhnya mampu menganalisis dan mengatasi gangguan/ kerusakan yang terjadi pada sistem pelumasan mesin.

Berangkat dari kesenjangan-kesenjangan pembelajaran dan kekurangan efektifan hasil belajar, siswa tersebut di atas, maka penulis menilai dapat dipecahkan dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri.

Penggunaan metode tersebut diharapkan ada sentuhan-sentuhan baru yang dapat meningkatkan motivasi belajar dapat menggunakan kemampuan berpikir kritis, dan siswa terlibat secara maksimal dalam proses pembelajaran, serta ikut bertanggung jawab terhadap terjadinya proses pembelajaran yang efektif.

  1. B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan menggunakan metode inkuiri dapat meningkatkan mutu pembelajaran sistem pelumasan mesin pada siswa kelas XI jurusan otomotif , SMK Negeri 5 Makassar.

  1. C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “meningkatkan mutu pembelajaran sistem pelumasan mesin dengan menggunakan metode inkuiri pada siswa kelas XI jurusan otomotif , SMK Negeri 5 Makassar.”.

  1. D. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Seluruh siswa dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
  2. Guru dapat memahami cara atau upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sistem pembelajaran yang efektif, agar kelemahan-kelemahan yang ada dapat dikurangi sehingga iklim belajar yang kondusif dapat diciptakan.
  3. Dapat meningkatkan kualitas dan mutu pembelajaran.
  4. Bagi peneliti, diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung dari penggunaan metode inkuiri dalam proses pembelajaran tersebut.
  1. II. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Pikir
    1. A. Tinjauan Pustaka
    2. 1. Efektifitas pembelajaran
    3. a. Pengertian efektifitas

Efektifitas berasal dari kata efektif yakni adanya efek (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), dapat membawa hasil dan berhasil guna. Atau dengan kata lain bahwa efektif adalah pengaruh yang dihasilkan, atau yang didapat setelah menggunakan metode tersebut, yang tentu saja diharapkan adalah pengaruh positifnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1990).

Pengertian efektifitas secara umum menunjukan sampai seberapa jauh tercapainya suatu tujuan yang terlebih dahulu ditentukan. Hal tersebut sesuai dengan pengertian efektifitas menurut Hidayat (1986) yang menjelaskan bahwa :

“ Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektifitasnya”.

Sedangkan pengertian efektivitas menurut Schemerhon John R. Jr. (1986:35) adalah sebagai berikut :

“ Efektifitas adalah pencapaian target output yang diukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya (OA) dengan output realisasi atau sesungguhnya (OS), jika (OA) > (OS) disebut efektif ”.

Adapun pengertian efektifitas menurut Prasetyo Budi Saksono (1984) adalah :

4

“ Efektifitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan output yang dicapai dengan output yang diharapkan dari sejumlah input “.

Dari pengertian-pengertian efektifitas tersebut dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.

  1. b. Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata belajar, yang memiliki arti yaitu aktivitas perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dimaksud itu nyata memiliki arti yang sangat luas yaitu perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Pengertian Pembelajaran adalah upaya untuk belajar. Kegiatan ini akan mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Sebagaimana hal yang disebutkan oleh Nababan bahwasannya arti pembelajaran adalah nominalisasi proses untuk membelajarkan. Seharusnya pembelajaran bermakna “proses membuat atau menyebabkan orang lain belajar.

Adapun menurut Oemar Hamalik, Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran, dalam hal ini manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan tenaga lainnya, materi meliputi; buku-buku, papan tulis dan lain-lainnya. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruang kelas dan audiovisual. prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktek belajar, ujian dan sebagainya. Pembelajaran disebut juga sebagai proses perilaku dengan arah positif untuk memecahkan masalah personal, ekonomi, sosial dan politik yang ditemui oleh individu, kelompok dan komunitas.

Dalam hal ini perilaku diartikan sebagai sikap, ide, nilai ,keahlian dan minat individu. Sedangkan arah positif merujuk kepada apa yang meningkatkan diri, orang lain dan komunitas. Pembelajaran memungkinkan individu, kelompok, atau komunitas menjadi entities yang berfungsi, efektif dan produktif di dalam masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran (proses belajar mengajar) adalah suatu aktifitas (upaya) seorang pendidik yang disengaja untuk memodifikasi (mengorganisasikan) berbagai komponen belajar mengajar yang diarahkan tercapainya tujuan yang ditentukan. Dari istilah proses belajar dan mengajar terdapat hubungan yang sangat erat. Bahkan terjadi kaitan dan interaksi saling pengaruh-mempengaruhi dan saling menunjang satu sama yang lain adapun tujuan belajar merupakan kriteria untuk mencapai derajat mutu dan efisiensi pembelajaran itu sendiri. Perbuatan belajar adalah proses yang komplek. Proses itu sendiri sulit diamati, namun perbuatan atau tindakan belajar dapat diamati berdasarkan perubahan tingkah laku yang dihasilkan oleh tindakan belajar tersebut.
Pada kenyataannya pembelajaran adalah merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dimana saja tanpa ada ruang dan waktu, karena memang pembelajaran biasa dilakukan kapan saja dan dimana saja, walaupun banyak orang beranggapan bahwa pembelajaran hanya dilakukan disekolah atau lembaga tertentu.
Dari uaraian diatas maka dapat ditarik benang merahnya yaitu pembelajaran merupakan kegiatan perubahan tingkah laku secara kognitif, afektif dan psikomotorik.

Proses pembelajaran meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran (Suryosubroto, 1997:19).

Proses pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (Usman, 1990:1).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.

Menurut Sudjana (dalam Suryosubroto, 1997:36), pelaksanaan proses

pembelajaran melalui pentahapan sebagai berikut:

  1. Tahap Pra Instruksional, yakni tahap yang ditempuh pada saat memulai sesuatu proses pembelajaran.
  2. Tahap Instruksional, yakni tahap pemberian bahan pelajaran.
  3. Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut, tahap ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tahap intrusional.

Mendukung pendapat Sudjana, Hasibuan (dalam Suryosubroto, 1997:38),  mengemukakan tahap mengajar sebagai berikut:

  1. Tahap sebelum pengajaran (menyusun tahunan pelaksanaan kurikulum; program semester atau catur wulan pelaksanaan kurikulum; program satuan pelajaran dan perencanaan program mengajar).
  2. Tahap pengajaran, yaitu interaksi guru dan siswa (pengelolaan dan pengendalian kelas; penyampaian informasi, dan keterampilan-keterampilan konsep; penggunaan tingkah laku verbal dan non verbal; cara mendapatkan balikan; mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologis yaitu motivasi dan keterlibatan siswa; mendiagnosis kesulitan belajar; menyajikan kegiatan  sehubungan dengan perbedaan individu; mengevaluasi kegiatan interaksi).
  3. Tahap sesudah pengajaran (menilai pekerjaan siswa; membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya; menilai kembali proses pembelajaran).

Berdasarkan tahap-tahap pembelajaran menurut Sudjana dan Hasibuan

di atas dapat penulis deskripsikan kemampuan guru yang semestinya dimiliki

oleh setiap guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kemampuan

tersebut antara lain:

  1. Tahap sebelum pengajaran (pra instruksional), yaitu tahap yang ditempuh pada saat memulai sesuatu proses pembelajaran, meliputi: guru mampu menyusun tahunan pelaksanaan kurikulum; guru mampu membuat program semester atau catur wulan pelaksanaan kurikulum; guru mampu membuat program satuan pelajaran dan perencanaan program mengajar.
  2. Tahap pengajaran (instruksional), yakni tahap pemberian bahan pelajaran, meliputi: guru mampu mengelola dan mengendalikan kelas; guru mampu menyampaikan informasi, dan keterampilan-keterampilan konsep; guru mampu menggunakan tingkah laku verbal dan non verbal; guru mampu memberikan balikan; guru mampu mempertimbangkan prinsip-prinsip psikologis yaitu motivasi dan keterlibatan siswa; guru mampu mendiagnosis kesulitan belajar; guru mampu menyajikan kegiatan sehubungan dengan perbedaan individu; guru mampu mengevaluasi kegiatan interaksi.
  3. Tahap sesudah pengajaran (evaluasi dan tindak lanjut), tahap ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan tahap instruksional, meliputi: guru mampu menilaipekerjaan siswa; guru mampu membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya; guru mampu menilai kembali proses pembelajaran.

Ketiga tahap tersebut harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran supaya proses pembelajaran tersebut berjalan lancar dan interaksi antara guru dan siswa dapat terjalin dengan baik, dan pada akhirnya tercipta suatu situasi pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi siswa.

  1. 2. Metode Inkuiri
  2. a. Pengertian metode inkuiri

Inkuiri berasal dari bahasa Inggris ” Inquiry”, yang secara harfiah berarti penyelidikan, pertanyaan atau pemeriksaan. Metode inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Metode inkuiri yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.

Metode inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah. Siswa benar-benar ditempatkan sebagai subjek yang belajar. Peranan guru dalam pembelajaran dengan metode inkuiri adalah sebagai pembimbing dan fasilitator. Tugas guru adalah memilih masalah yang perlu disampaikan kepada kelas untuk dipecahkan. Namun dimungkinkan juga bahwa masalah yang akan dipecahkan dipilih oleh siswa. Tugas guru selanjutnya adalah menyediakan sumber belajar bagi siswa dalam rangka memecahkan masalah. Bimbingan dan pengawasan guru masih diperlukan, tetapi intervensi terhadap kegiatan siswa dalam pemecahan masalah harus dikurangi (Sagala, 2004).

Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inkuiri sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).

  1. Question, pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa.
  2. Student Engangement, dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa bukan secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, melainkan dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
  3. Cooperative Interaction, siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk, dan mungkin saja semua jawaban benar.
  4. Performance Evaluation, dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
  5. Variety of Resources, siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.

Sasaran utama kegiatan mengajar pada strategi ini ialah :

1)      Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar.

2)      Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pengajaran.

3)      Mengembangkan sikap percaya pada diri sendiri (self belief) pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.

Kondisi-kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa yaitu :

  1. Aspek sosial di dalam kelas dan suasana terbuka yang mengundang siswa berdiskusi
  2. Penggunaan fakta sebagai evidensi (di dalam dibicarakan validitas dan reabilitas tentang fakta).

Agar kondisi seperti itu tercipta, maka peranan guru sangat menentukan. Guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi dan siswa sebagai penerima informasi, sekalipun itu sangat diperlukan. Gulo (2002:86) mengungkapkan peranan utama guru dalam menciptakan kondisi inkuiri adalah sebagai berikut :

  1. Motivator, yang memberi rangsangan supaya siswa aktif dan gairah berpikir.
  2. Facilitator, yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berpikir siswa.
  3. Penanya, untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri.
  4. Administrator, yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan di dalam kelas.
  5. Pengarah, yang memimpin arus kegiatan berpikir siswa pada tujuan yang diharapkan.
  6. Manajer, yang mengelola sumber belajar, waktu, dan organisasi kelas.
  7. Rewarder, yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan semangat heuristik pada siswa.

Piaget dalam Mulyasa, (2005:108) mengemukakan bahwa metode inkuiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan peserta didik lain. Metode inkuiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-­kegiatan sebagai berikut :

1)      Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam;

2)      Merumuskan masalah yang ditemukan;

3)      Merumuskan hipotesis;

4)      Merancang dan melakukan eksperimen;

5)      Mengumpulkan dan menganalisis data;

6)      Menarik kesimpulan dan mengembangkan sikap ilmiah. yakni : obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, kemauan, dan tanggung jawab.

Dalam pembelajaran dengan inkuiri, siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.

b. Keuntungan menggunakan metode inkuiri

Pembelajaran dengan inkuiri, siswa didorong untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya sehingga menemukan jawaban. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisis dan menangani informasi.

Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Inkuiri adalah seni ilmu bertanya serta menjawab. Inkuiri melibatkan observasi dan pengukuran, pembuatan hipotesis dan interpretasi, pembentukan model dan pengujian model. Inkuiri menuntut adanya eksperimen, refleksi, dan pengenalan akan keunggulan dan kelemahan metode-metodenya sendiri.

Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat mengajukan pertanyaan atau mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan bersifat open-ended, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan mencari jawaban sendiri (tapi tidak hanya satu jawaban yang benar)

7

  1. c. Manfaat metode inkuiri bagi siswa

Manfaat metode inkuiri bagi siswa diantaranya memberikan pengalaman-­pengalaman belajar yang nyata dan aktif kepada siswa. Siswa diharapkan mengambil inisiatif. Mereka dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan, dan memperoleh keterampilan. Inkuiri memungkinkan siswa dalam berbagai tahap perkembangannya bekerja dengan masalah-masalah yang sama dan bahkan bekerja sama mencari jawaban terhadap masalah-masalah. Setiap siswa harus memainkan dan memfungsikan talentanya masing-masing.

Inkuiri memungkinkan terjadinya integrasi berbagai disiplin ilmu. Ketika siswa melakukan eksplorasi, mereka akan mangajukan pertanyaan-pertanyaan yang akan melibatkan sains dan matematika, ilmu sosial, bahasa, seni dan teknik. Ketika menggunakan teknik inkuiri, guru tidak boleh terlalu banyak bertanya, berbicara dan menjawab karena akan mengurangi proses belajar siswa melalui inkuiri, dengan demikian untuk bertanggung jawab pada pendidikan mereka sendiri. Guru yang menaruh perhatian, akan menemukan kegiatan-kegiatan yang disukai siswa, juga hal­-hal yang baik yang ada dalam diri siswa-siswanya, dan kesulitan-kesulitan yang mengganggu siswa dalam proses belajar. Guru dituntut menyesuaikan diri dengan gaya belajar siswa-siswanya.

  1. d. Siklus inkuiri

Inkuiri dimulai dengan observasi yang menjadi dasar pemunculan berbagai pertanyaan yang diajukan siswa. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut dikejar dan diperoleh melalui siklus pembuatan prediksi, perumusan hipotesis, pengembangan cara-cara pengujian hipotesis, pembuatan observasi lanjutan, penciptaan teori-teori dan model-model konsep yang didasarkan pada data pengetahuan. Inkuiri menciptakan berbagai kesempatan bagi guru untuk mempelajari bagaimana otak siswa bekerja. Guru dapat memanfaatkannya untuk menentukan situasi-situasi belajar yang tepat dan memfasilitasi siswa dalam proses pencarian ilmu.

  1. e. Inkuiri dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis

Pada proses inkuiri siswa belajar dan dilatih bagaimana harus berpikir kritis. Berpikir kritis merupakan salah satu tujuan pendidikan. Ketika siswa belajar berpikir kritis, mereka akan memperlihatkan pikiran-pikiran dan proses-proses sebagai berikut :

1)      Mengajukan pertanyaan seperti “Bagaimana itu kita tahu”? atau “Apa
buktinya ?”

2)      Mengetahui perbedaan antara observasi dan kesimpulan.

3)      Mengetahui bahwa semua gagasan ilmiah dapat berubah dan teori-teori yang ada adalah teori-teori yang terbaik berdasarkan bukti yang dimiliki saat ini.

4)      Mengetahui bahwa diperlukan bukti yang cukup untuk menarik kesimpulan yang kuat.

5) Memberi penjelasan atau interpretasi, melakukan observasi dan/atau prediksi.

6)      Selalu mencari konsistensi terhadap kesimpulan-kesimpulan yang diambil dan memberikan penjelasan dengan rasa percaya diri.

Salah satu tujuan utama pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, membuat keputusan rasional tentang apa yang diperbuat atau yang diyakini. Belajar berpikir kritis memerlukan latihan. Siswa dapat diberikan sejumlah dilema (dua pilihan yang sulit), argumen logis dan tidak logis (masuk akal), iklan yang valid dan menyesatkan, dan sebagainya. Pengajaran efektif tentang berpikir kritis bergantung pada penataan suasana kelas yang mendorong penerimaan pandangan yang berbeda dan diskusi bebas. Tatanan itu seharusnya lebih menekankan pada pemberian alasan atau pandangan dari pada hanya memberikan jawaban benar. Keterampilan berpikir kritis paling balk dicapai bila dihubungkan dengan topic-topik yang dikenal siswa. Tujuan pengajaran berpikir kritis adalah menciptakan semangat berpikir kritis yang mendorong siswa mempertanyakan apa yang mereka dengar dan mengkaji pikiran mereka sendiri untuk memastikan tidak terjadi logika yang tidak konsisten atau keliru.

  1. 3. SISTEM PELUMASAN

Sistem pelumasan adalah suatu sistem pengaliran bahan pelumas pada komponen-komponen mesin yang saling bergesekan saat mesin mulai hidup, permukaan komponen-komponen yang saling bergesekan itu dilapisi oleh pelumas sehingga tidak terjadi kontak langsung pada komponen-komponen

tersebut.

Lima kondisi yang mengotori oli pelumas engine :

  1. Kotoran karbon dari pembakaran engine.
  2. Debu dan kotoran yang terbawa masuk ke engine oleh oleh udara atau bahan bakar.
  3. Bagian yang halus dari logam, merupakan hasil dari keausan engine, menjadi bercampur dengan oli.
  4. Bahan bakar liar dan pembakaran menghasilkan kebocoran melalui ring-ring piston kedalam ruang engkoll.
  5. Kondensasi / pengembunan air dari udara yang melalui engine.

Bagian-bagian sistem pelumasan:

  1. Karter atau panci oli terletak pada bagian bawah engine untuk menyimpan oli yang diperlukan untuk pelumasan engine.
  2. Tutup pengisi oli ketika dibuka, menyediakan sebuah ruang yang memungkinkan oli dapat dimasukan kedalam engine.
  3. Tongkat kedalaman merupakan batang yang dapat dicabut dengan mudah yang digunakan untuk menjelaskan jumlah oli engine dengan benar.
  4. Pompa oli mensirkulasikan oli engine ke komponen-komponen engine untuk memberikan pelumasan kepada bagian-bagian yang bergerak sehingga mecegah keausan akibat gesekan.
  5. Katup pembebas tekanan oli memungkinkan takanan oli yang berlebihan untuk kembali ke panci oli, termasuk ketika engine dingin (oli pekat), untuk mengurangi kemungkinan kerusakan komponen-komponen sistem pelumasan.
  6. Saringan oli dipasangkan untuk menghalangi partikel-partikel kotoran terbawa masuk oleh oli engine yang dapat menimbulkan kerusakan engine. Katup By-pass dipasangkan yang memungkinkan oli tidak tersaring  dan masuk ke engine dengan jalan pintas ketika saringan buntu/ penuh klotoran.
  7. Saluran Serambi Utama dan pipa-pipa, sebagai dipelumas menuju engine.
  8. Indikator tekanan oli dirancang untuk memberi sebuah peringatan jika tekanan oli pelumas turun dibawah tekanan yang diperlukan untuk kerja engine yang efektif.
  9. Pendinginan oli sesuatu yang dipasang untuk mendinginkan oli pelumas dengan memindahkan  kelebihan panas dengan pendingin udara yang dilewatkan pada inti pendingin.

10.  Katup Ventilasi Ruang Engkol (Positif Crankcase Ventilation (PCV)) dirancang untuk membuang kebocoran asap yang dihasilkan  oleh pembakaran-pembakaran yang masuk  keruang engkol. Asap ini dihasilkan karena tekanan pada engine yang meningkat, dihasilkan karena kebocoran perapat oli pada silinder.

  1. B. KERANGKA BERPIKIR

Guru merupakan komponen yang memegang peranan penting dan utama dalam proses pembelajaran. Kemampuan guru menciptakan lingkungan/ suasana yang menarik dan menyenangkan bagi peserta didik akan menentukan kualitas dan hasil pembelajaran. Pembelajaran harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi, Serta harus minat dan kemampuan peserta didik.

Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Pembelajaran harus dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru, serta lebih menentukan pada interaksi peserta didik. Dalam melaksanakan proses pembelajaran guru harus menggunakan strategi sebagai salah satu komponen dari pembelajaran termasuk juga strategi penggunaan metode inkuiri.

Keberhasilan guru dalam menyampaikan meteri yang pada akhirnya dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran yang digunakan. Metode inkuiri dapat menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan, karena dengan metode inkuiri dapat memacu keinginan siswa untuk mengetahui lebih dalam tentang materi pelajaran serta memberikan pengalaman-pengalaman belajar yang nyata dan aktif. Silswa diharapkan mengambil inisiatif dalam proses pembelajaran. Mereka juga dilatih bagaimana memecahkan masalah, membuat keputusan dan memperoleh teterampilan.

Strategi pembelajaran inkuiri sosial (social science inquiry) dikembangkan oleh (Massialas dan Cox, 1996). Pemilihan strategi pembelajaran inkuiri sosial untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran sosial karena:

  1. Strategi ini khusus dirancang untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah sosial.
  2. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ini terbukti efektif meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah-masalah sosial (joice dan weil, 1992).
  3. Strategi ini merupakan sinkronisasi antara teori mengajar dan teori belajar, yang memiliki prosedur yang sistematis dan mudah ditrapkan oleh pengajar.

Penelitian Pribadi dan Tutik Yuliati (2004) dengan judul Meningkatkan Kemampuan Belajar Siswa Kelas II Jurusan Teknik Bangunan SMK Negeri I Singosari Malang Melalui Model Mengajar Inkuiri Dalam Memecahkan Soal-Soal Pada Mata Pelajaran Konstruksi Beton, menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Penerapan model mengajar inkuiri dalam pembelajaran konstruksi beton di SMK Negeri I Singosari Malang, dapat meningkatkan hasi pembelajaran. Hal ini terlihat dari kecermatan dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal konstruksi beton, yakni dari kemampuan dan keterampilan siswa dalam (a) penyajian masalah, (b) pengumpulan data verifikasi, (c) pengumpulan data eksperimentasi, (d) organisasi data formulasi kesimpulan, dan (e) analisis proses inkuiri.
  2. Penerapan model belajar inkuiri dalam mata pelajaran Konstruksi Beton mampu mampu meningkatkan hasil belajar pada siswa kelas II Jurusan Bangunan Gedung SMK Negeri I Singosari Malang.

Penelitian lain tentang metode inkuiri telah banyak dilakukan di Indonesia, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa model inkuiri secara signifikan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan sekaligus meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.

  1. C. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan deskripsi teori sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah penerapan metode Inkuri dapat meningkatkan mutu pembelajaran sistem pelumasan mesin pada siswa kelas XI Jurusan Otomotif SMK Negeri 5 Makassar.

III. METODE PENELITIAN

  1. A. SUBJEK, LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
  2. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI otomotif SMK Negeri 5 Makassar.
  3. Lokasi penelitian SMK Negeri 5 Makassar.
  4. waktu penelitian direncanakan 5 minggu, mulai 19 Juli 2010 sampai dengan 22 Agstus 2010.
  5. JENIS PENELITIAN

Penelitian  ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dan cara pelaksanaannya meliputi 4 tahapan, yaitu: perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.

  1. C. PERENCANAAN  TINDAKAN

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus pada semester ganjil yaitu :

  1. Siklus I berlangsung selama 3 kali tatap muka dalam waktu 3 minggu 24 jam x 45 menit.
  2. Siklus II berlangsung selama 2 kali tatap muka dalam waktu 2 minggu 16 jam x 45 menit.
22
Siklus I Perencanaan 1. melakukan rencana persiapan pembelajaran tentang mata diklat sistem pendingin mesin.

2. merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran.

3. menentukan pokok bahasan/ sub kompetensi.

4. membuat/ mengembangkan scenario pembelajaran, scenario pembelajaran tiap pertemuan.

5. membuat/ mengembangkan lembar observasi untuk mengamati dan mengidentifikasi segala yang terjadi selama pembelajaran dikelas, antara lain : daftar absensi dan keaktifan / kesungguhan siswa dalam proses pembelajaran.

6. Menyiapkan sumber belajar.

7. Membuat/ mengembangkan format alai evaluasi untuk melihat kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal berdasarkan materi yang diberikan.

Tindakan 1.   menerapkan tindakan yang mengacu pada scenario pembelajaran
Pengamatan 1. Melakukan observasi dengan memakai format observasi.

2. Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format penilaian.

Refleksi 1. Merefleksikan setiap hat yang diperoleh melalui
lembar observasi.

2.  Menilai dan mempelajari perkembangan hasil pekerjaan siswa dalam bentuk kelompok dan individu yang diberikan selama siklus 1, serta nilai akhir siklus 1.

3. memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat refleksi atau tanggapan tertulis ataupun saran-saran perbaikan atas : metode pembelajaran yang diberikan, dan kegiatan belajar mengajar yang mereka alami.

4. melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi : evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan.

5.  melakukan pertemuan dengan team pengajar untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario pembelajaran, dll.

6. memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya.

Siklus II Perencanaan 1. dari hasil refleksi serta tanggapan yang diberikan siswa pada siklus I, guru menyusun rencana baru untuk dibuat tindakannya, antara lain : mengawasi siswa lebih tegas, memberikan teguran epada siswa yang kurang disiplin.

2. memberikan motivasi agar siswa dapat lebih baik bergairah dan senang belajar baik secara kelompok maupun secara individual.

3. identifikasi masalah dan penetapan alternative pemecahan masalah.

4. mengembangkan program tindakan II.

Tindakan 1. dalam tahapan tindakan ini adalah tindakan yang akan dilaksanakan di setiap tatap muka.

2. pelaksanaan program tindakan II.

Pengamatan 1. observasi dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung. Mencatat setiap yang dialami oleh siswa, situasi dan kondisi belajar siswa berdasarkan lembar observasi yang sudah di buat dalam hal ini menyangkut kehadiran siswa, perhatian, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran.

2. pengumpulan data tindakan II.

Refleksi 1. menilai dan mempelajari perkembangan hasil pekerjaan siswa siklus II, serta nilai akhir siklus II.

2. mengamati dan mencatat perkembangan-perkembangan atau hal-hal yang dialami siswa selama berlangsungnya pembelajaran, hasil pekerjaan siswa selama siklus II, serta nilai akhir siklus II.

3. memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat refleksi atau tanggapan tertulis ataupun saran-saran perbaikan atas ; metode pembelajaran yang diberikan, dan kegiatan belajar mengajar yang mereka alami.

4. evaluasi tindakan II.

  1. D. PELAKSANAAN TINDAKAN
  2. 1. Implementasi dan Observasi

Dalam tahap ini diawal pertemuan guru menjelaskan kepada siswa tentang metode pembelajaran yang akan digunakan, kemudian memulai proses pembelajaran sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, sekaligus mengobservasi berbagai fenomena/ kejadian yang terjadi selama proses pelaksanaan kegiatan.

Tabel 2. Aliran Kegiatan Belajar Mengajar.

KEGIATAN SISWA SINTAKS ALIRAN KEGIATAN KEGIATAN GURU KETERANGAN
Mendengar, mempertanyakan, mengusulkan Pengantar singkat tentang konten dan prosedur Memberi penjelasan tentang konten dan prosedur kerja Menentukan batas waktu.
Masuk ke dalam

Kelompok

Membentuk

Kelompok

Mengorganisa

si fasilitas dan kelompok

Menjajaki cara

Kelompok

Menjelaskan tujuan Klarifikasi tujuan Membantu, mengamati, mengarahkan
Membaca, bertanya, mengamati, membuat catatan, meneliti, mengorganisasi data Kerja individual Menganjurkan, memberi fasilitas dan bimbingan Saling membantu antar siswa
Analisis data, kesimpulan individual Laporan pada kelompok Menganjurkan, memberi fasilitas dan bimbingan Saling membantu antar siswa
Sharing pertemuan, kritik, mengambil catatan, kesimpulan, pendahuluan. Diskusi kelompok Menganjurkan, memberi fasilitas  dan bimbingan Saling membantu antar siswa
Menulis laporan kelompok antar siswa laporan kelompok Memberi bantuan Saling membantu
Menanggapi dan bertanya Diskusi kelas Memantau, membantu mengelola kelas Memimpin diskusi
Tanya jawab, catat Rangkuman Sintesis, menyimpulkan Memimpin diskusi
Memberi saran Tindak lanjut Menentukan tindak lanjut berdasarkan hasil diskusi Memimpin diskusi

Observasi dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Mencatat setiap hal yang dialami oleh siswa, situasi dan kondisi belajar siswa berdasarkan lembar observasi yang sudah dibuat, dalam hal ini mengenai kehadiran siswa, perhatian dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Pada saat observasi ini perlu membuat jurnal harian. Hasil pekerjaan beberapa siswa juga perlu diamati.

  1. 2. Analisis dan Evaluasi

Dalam tahap ini dilaksanakan evaluasi secara keseluruhan baik hal-hal yang terjadi selama proses pelaksanaan maupun aspek-aspek yang terkait dengan perencanaan.

  1. a. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

  1. Observasi mengenai perubahan sikap, kehadiran, dan keaktifan siswa di dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang diambil dengan cara pengamatan dan observasi.
  2. Evaluasi tentang hasil belajar sistem pelumasan mesin diambil dari hasil tes akhir satu (1) dan tes akhir siklus dua (II).
  3. Alat pengumpul data menggunakan format /Check lis, dan tes tertulis dalam bentuk essay test.
  4. b. Analisa Data.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif.

  1. Analisis data kualitatif dilakukan dengan menyimpulkan intisari dari data yang disajikan dan telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat.
  2. Analisis kuantitatif, berupa tabulasi dan rata-rata hasil evaluasi siklus I dan II.

Digunakan untuk data tunggal tanpa frekuensi.

–          Rata-rata

–           = data ke i

–           = banyaknya siswa yang diteliti

–          Modus (Mo) = frekuensi data terbanyak

–          Median (Me) = nilai tengah setelah data diurut

–          Simpangan baku (S) =

  1. c. Evaluasi.

Hasil analisis Evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh informasi atau balikan dari proses kegiatan penelitian yaitu menilai tahap perencanaan, observasi dan pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah sebagai berikut :

  1. Apakah proses penelitian sudah berjalan secara efektif, sesuai dengan indikator keberhasilan atau belum.
  2. Apakah keterlaksanaan tindakan sudah memenuhi kriteria dan aspek-aspek yang harus dilakukan oleh peneliti maupun siswa pada setiap siklus.
  3. Apakah hasil belajar siswa yang dicapai pada setiap siklus sudah sesuai dengan harapan yang diinginkan atau belum.
  4. 3. Refleksi

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap refleksi adalah :

  1. Merefleksikan setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, yakni keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas kelompok dan tugas individu.
  2. Menilai dan memperbaiki perkembangan hasil pekerjaan siswa dalam bentuk kelompok dan individu yang diberikan selama siklus I, serta nilai terkahir siklus II
  3. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat refleksi atau tanggapan tertulis ataupun saran-saran perbaikan atas metode pembelajaran yang diberikan dan kegiatan belajar mengajar yang mereka alami. Untuk selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan siklus I pada siklus berikutnya.
  4. 4. Perencanaan Tindak Lanjut

Perencanaan tindak lanjut dilaksanakan dengan memperhatikan hasil refleksi. Kelemaan-kelemahan yang terjadi baik pada siswa, suasana kelas maupun guru, dilakukan perbaikan untuk mencapai keberhasilan seperti yang diharapkan pada siklus berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995. New step 1, Training Manual. Jakarta: PT. Toyota Astra Motor

Danfar. 2009. Pengertian efektifitas http://dansite.wordpress.com/2009/03/28/ pengertian-efektifitas/ (online) tgl 4 april 2010 Pukul 23.05 wita

Darmawang. 2007. Modul Strategi Pembelajaran Kejuruan. Makassar: Penerbit UNM

Iwan. 2008. Metode Megajar Inkuiri http://iwanps.wordpress.com/2008/04/17 metode-mengajar-inkuiri/ (online) tgl 19 maret 2010 Pukul 21.15 wita.

Majid, Abd. 2006. Perencanaan pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mannan, Abd. 2006. Penelitian tindakan kelas. Makassar: Fakultas Teknik UNM.

Mulyasa. 2005. Implemenasi Kurikulum 2004. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Pareang, 2007. Meningkatkan efektifias pembelajaran system pendingin mesin dengan menggunakan metode inkuiri di SMK Kr. Harapan Rantepao. Skripsi FT UNM Makassar. Tidak Diterbitkan

Salim, Machrus. 2008. Efektifitas Pembelajaran Bahasa Arab dengan Kitab Madarij al-Durus al-Arabiyyah di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an Singosari Malang.Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN SUNAN AMPEL. Tidak diterbitkan

Sattu, Simon. 2007. Peningkatan efektifitas Pembelajaran Sistem Pengisian Baterai dengan Menggunakan Metode Inkuiri di SMK Kr. Harapan Rantepao. Skripsi FT UNM. Tidak Diterbitkan

Starawaji. 2009.  Efektivitas pembelajaran http://starawaji.wordpress.com/2009/ 03/01/efektivitas-pembelajaran/ (online) tgl 31 maret 2010 Pukul 20.05 wita.

Iklan

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN “MIND MAPPING” TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X SMA FRATER MAKASSAR PADA MATERI POKOK IKATAN KIMIA

April 17, 2010

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang berakal sehingga rasa ingin tahunya takkan pernah habis semasa hidupnya. Segala jenis keadaan alam baik yang dapat ditangkap panca indera maupun tidak adalah media ajar untuk manusia dalam mendalami peristiwa alam. Selain untuk mengetahui, manusia juga harus memenuhi kebutuhan serta mengatasi masalah-masalah yang ada di sekitarnya. Hal ini menjadi dorongan bagi para ahli untuk mengembangkan teori yang ada agar menghasilkan teori baru bahkan zat baru yang bermanfaat bagi manusia.
Telah banyak teori yang ditemukan dan bahkan telah ditetapkan sebagai hukum yang dipedomani dalam mempelajari lebih lanjut, mengembangkan, dan menerapkan teori tersebut. Teori-teori dan hukum-hukum yang menjelaskan tentang gejala dan peristiwa yang terjadi di alam diklasifikasikan ke dalam satu disiplin ilmu yang dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Ada dua cara mendalami IPA, yaitu melalui serendipity dan dengan metode ilmiah. Serendipity jarang sekali terjadi sehingga tidak dapat diandalkan dalam mempelajari IPA sedangkan cara kedua harus dilakukan dengan melakukan kegiatan di laboratorium melalui pendekatan ilmiah, yaitu metode ilmiah.
Langkah umum metode ilmiah adalah mengidentifikasi masalah, menetapkan hipotesis, menetapkan langkah-langkah penyelesaian masalah, melakukan percobaan, mencatat data, menarik kesimpulan, dan menerbitkan laporan.
Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari material dan perubahannya yang ada dalam alam semesta, termasuk ke dalam ruang lingkup IPA. Dengan demikian, belajar ilmu kimia seharusnya berorientasi pada metode ilmiah. Belajar dengan metode ilmiah memerlukan ingatan yang baik. Ingatan merupakan suatu proses biologi, yaitu pemberian kode-kode terhadap informasi dan pemanggilan informasi kembali ketika informasi tersebut dibutuhkan. Namun kebanyakan yang terjadi sekarang ini siswa tidak dapat mengingat materi yang diberikan oleh guru dengan kata lain materi tidak tersimpan lama dalam kognitif siswa. Hal ini terjadi karena informasi yang diperoleh siswa tidak diolah lebih lanjut sehingga hanya tersimpan dalam memori jangka pendek tidak tersimpan dalam memori jangka panjang. Untuk mengatasi hal tersebut, siswa melakukan berbagai hal salah satunya mencatat dengan baik materi yang diberikan guru. Seperti yang dikutip dari pernyataan salah seorang pemerhati pendidikan sebagai berikut:
Mencatat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat Otak manusia dapat menyimpan segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan. Tujuan pencatatan adalah membantu mengingat informasi yang tersimpan dalam memori, tanpa mencatat dan mengulangi informasi, siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan. (R. Teti Rostikawati.2008:1)

Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan terlihat sangat monoton dan membosankan. Pada dasarnya catatan monoton akan menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi pelajaran. Seperti yang terjadi di SMA Frater Makassar, model pembelajaran yang digunakan guru adalah model konvensional dengan menggunakan cara mencatat tradisional sehingga kebanyakan dari materi pelajaran yang kompleks dan membutuhkan pemahaman yang mendalam seperti materi ikatan kimia sangat sukar dipahami oleh siswa dan siswa cenderung belajar menghafal menyebabkan materi tersebut tidak tersimpan dalam kognitif siswa dan siswa cenderung tidak berminat untuk mempelajari materi tersebut. Terlihat dari hasil belajar siswa, dengan menggunakan ketuntasan 65, siswa yang tuntas belajar pada ikatan kimia hanya 50% .
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud melakukan penelitian dengan memperkenalkan cara mencatat dalam bentuk lain yang dikenal dengan mind mapping dengan memfokuskan pada pengaruh penggunaan model mind mapping terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Frater Makassar khusus pada materi pokok Ikatan Kimia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
Apakah pengaruh penggunaan model pembelajaran mind mapping lebih besar daripada pengaruh penggunaan model pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Frater Makassar pada materi pokok Ikatan Kimia ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pengaruh penggunaan model pembelajaran mind mapping lebih besar daripada pengaruh penggunaan model pembelajaran konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Frater Makassar pada materi pokok Ikatan Kimia.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi jurusan , Memberikan literatur tentang Mind Mapping sehingga dapat dijadikan pedoman bagi peneliti yang ingin meneliti lebih lanjut tentang Mind Mapping
2. Bagi psekolah, memberikan sumbangan pemikiran atau bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang dapat memberikan alternatif cara mencatat siswa terutama yang berorientasi pada peningkatan hasil belajar siswa.
3. Bagi pembaca dapat memberikan informasi tentang Mind mapping dan sebagai tolok ukur untuk penelitian lebih lanjut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Mind Mapping
Mind mapping dapat diartikan sebagai proses memetakan pikiran untuk menghubungkan konsep-konsep tentang permasalahan tertentu dari cabang-cabang sel saraf membentuk korelasi konsep menuju pada suatu pemahaman dan hasilnya dituangkan langsung di atas kertas dengan animasi yang disukai dan gampang dimengerti oleh pembuatnya. Sehingga tulisan yang dihasilkan merupakan gambaran langsung dari cara kerja koneksi-koneksi di dalam otak. Senada dengan yang dikemukakan dalam bukunya Pintar Mind Map
Mind mapping adalah cara mengembangkan kegiatan berpikir ke segala arah, menangkap berbagai pikiran dalam berbagai sudut. Mind mapping mengembangkan cara berpikir divergen, berpikir kreatif. Mind mapping adalah alat berpikir organisasional yang sangat hebat. Mind maping dapat diistilahkan sebagai Pisau tentera Swiss Otak. Mind mapping adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi itu ketika dibutuhkan. (Tony Buzan.2008.4)

Hal itu juga dibenarkan oleh Eric Jensen yang menyatakan,
Mind mapping merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Mind mapping sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Mind mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari (R. Teti Rostikawati 2008:4)
Hasil dari mind mapping akan menggambarkan pola pikir seseorang secara teratur, penuh dengan warna, garis lengkung, simbol, kata dan gambar yang sesuai dengan satu rangkaian yang sederhana, mendasar, alami, dan sesuai dengan cara kerja otak. Mind mapping buka hal yang sukar dilakukan dan berharga mahal, hanya membutuhkan kemauan untuk mengerti suatu materi. Karena menurut Tony Buzan 2008, orang yang memperkenalkan mind mapping untuk membuatnya hanya diperlukan bahan-bahan berikut:
a. Kertas kosong tak bergaris
b. Pena dan pensil warna
c. Otak
d. Imaginasi

Sedangkan untuk mind mapping ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu konsep utama, isu utama, sub isu (dari setiap isu utama), sub-sub-isu (dari setiap isu), dan proposisi. Sehingga langkah-langkah dasar mind mapping menurut Tony Buzan 2008 adalah:
a. Mulailah dari tengah kertas kosong
b. Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama
c. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting-ranting yang berhubungan ke cabang dan seterusnya
d. Buatlah garis hubung yang melengkung
e. Gunakan satu kunci untuk setiap garis
f. Gunakan gambar

Sekarang ini, telah banyak yang merasakan dan mengakui bahwa mind mapping sangat bermanfaat dalam kegiatan manusia, karena menghasilkan catatan yang langsung menggambarkan cabang-cabang pikiran pencatat, sehingga pencatat mudah memahami isi catatanya walaupun hanya melihat sepintas dalam bukunya Buku Pintar Mind Map Toni Buzan menuliskan beberapa nama para ahli yang sukses karena pekerjaannya diawali dengan mind mapping. Mind mapping dinilai dapat pemecahan masalah dengan efektif. Menurut Toni Buzan 2008 mind mapping dapat membantu kita untuk banyak hal seperti:
a. Merencanakan
b. Berkomunikasi
c. Menjadi lebih kreatif
d. Menyelesaikan masalah
e. Memusatkan perhatian
f. Menyusun dan menjelaskan pikiran-pikiran
g. Mengingat dengan baik
h. Belajar lebih cepat dan efisien
i. Melatih “gambar keseluruhan”

Sedangkan menurut S.B. Widyandan (2008), jika dikaitkan dengan berpikir kreatif, mind mapping dapat membantu:
a. Meningkatkan kecepatan berpikir
b. Memberi kita kelenturan yang terbatas
c. Menjelajah jauh dari pemikiran kita ke tempat ide-ide orisinal menunggu
Menurut Suyatno 2009 untuk anak-anak, mind mapping memiliki manfaat, sebagai berikut: “membantu dalam mengingat, mendapatkan ide, menghemat waktu, berkonsentrasi, mendapatkan nilai yang lebih bagus, mengatur pikiran dan hobi, media bermain, bersenang-senang dalam menuangkan imajinasi yang tentunya memunculkan kreativitas”

2. Model Mind Mapping
Mind mapping yang dilakukan oleh siswa harus diarahkan oleh guru agar mind map siswa searah dengan inti materi yang disajikan guru. Oleh karena itu, jika mind mapping diterapkan dalam pembelajaran maka harus melalui langkah-langkah konkrit membentuk sebuah model pembelajaran yang dapat mengubah cara mencatat siswa dari linear panjang menjadi mind map sintaksnya adalah sebagai berikut:
Informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi. (Herdian.2009)
Kelebihan pembelajaran model Mind mapping :
1. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas.
2. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya
3. Catatan lebih padat dan jelas
4. Lebih mudah mencari catatan jika diperlukan.
5. Catatan lebih terfokus pada inti materi
6. Mudah melihat gambaran keseluruhan
7. Membantu Otak untuk : mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
8. Memudahkan penambahan informasi baru
9. Pengkajian ulang bisa lebih cepat
10. Setiap peta bersifat unik
Kekurangan pembelajaran model Mind mapping :
1. Hanya siswa yang aktif yang terlibat.
2. Tidak sepenuhnya murid yang belajar
3. Mind map siswa bervariasi sehingga guru akan kewalahan memeriksa mind map siswa.
(Kiranawati.2007:1)
3. Hasil Belajar
Semua aktivitas dan prestasi hidup adalah hasil belajar. Menurut Slameto “belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. (Abdul Haling.2007:2)
Sedang menurut W.S. Winkel 2005 “belajar pada manusia merupakan suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif subjek dan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, dan nilai-sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.”
Hamalik mengatakan, “Belajar adalah suatu perkembangan dari seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Belajar itu perubahan-perubahan bersifat psikhis.” (Abdul Haling.2007:2)
Tetapi secara singkat Gledger mengatakan, “belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap” (Abdul Haling.2007.2)
Syaiful Sagala juga mengatakan “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu” (Syaiful Sagala.2003.37)
Berdasarkan pengertian belajar tersebut maka hasil belajar juga memiliki banyak devinisi, menurut Hardward Kingsley, ”hasil belajar terdiri atas tiga macam, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita” (Nana Sudjana.1989.22) sedangkan Benyamin Bloom mengatakan, “hasil belajar terdiri dari tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah psikomotoris, dan ranah afektif” (Nana Sudjana.1989.22)
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal
1) Faktor biologis (jasmani), keadaan jasmani yang perlu diperhatikan, pertama kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai sesudah lahir. Kondisi fisik normal ini terutama harus meliputi keadaan otak, panca indera, anggota tubuh. Kedua, kondisi kesehatan fisik. Kondisi fisik yang sehat dan segar sangat mempengaruhi keberhasilan belajar. Di dalam menjaga kesehatan fisik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain makan dan minum yang teratur, olahraga serta cukup tidur.
2) Faktor psikologis, faktor psikologis yang mempengaruhi keberhasilan belajar ini meliputi segala hal yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantap dan stabil. Faktor psikologis ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, intelegensi. Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Kedua, kemauan. Kemauan dapat dikatakan faktor utama penentu keberhasilan belajar seseorang. Ketiga, bakat. Bakat ini bukan menentukan mampu atau tidaknya seseorang dalam suatu bidang, melainkan lebih banyak menentukan tinggi rendahnya kemampuan seseorang dalam suatu bidang.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor lingkungan keluarga, Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang. Suasana lingkungan rumah yang cukup tenang, adanya perhatian orangtua terhadap perkembangan proses belajar dan pendidikan anak-anaknya maka akan mempengaruhi keberhasilan belajarnya.
2) Faktor lingkungan sekolah, Lingkungan sekolah sangat diperlukan untuk menentukan keberhasilan belajar siswa. Hal yang paling mempengaruhi keberhasilan belajar para siswa disekolah mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, pelajaran, waktu sekolah, tata tertib atau disiplin yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten.
3) Faktor lingkungan masyarakat, Seorang siswa hendaknya dapat memilih lingkungan masyarakat yang dapat menunjang keberhasilan belajar. Masyarakt merupkan faktor ekstern yang juga berpengruh terhadap belajar siswa karena keberadannya dalam masyarakat. Lingkungan yang dapat menunjang keberhasilan belajar diantaranya adalah, lembaga-lembaga pendidikan nonformal, seperti kursus bahasa asing, bimbingan tes, pengajian remaja dan lain-lain. (Indra.2008)

4. Tinjauan Umum Materi Pokok Ikatan Kimia
Ikatan kimia merupakan materi kelas X semester I dengan alokasi waktu penyajian materi 6 jam pelajaran, secara umum ikatan kimia dapat digambarkan sebagai gaya yang bekerja pada gabungan atom atau ion yang ingin mencapai kestabilan. Gaya tersebut dapat berupa gaya antar atom dan gaya antarmolekul. Namun di kelas X baru mempelajari pengenalan ikatan kimia yang meliputi kecenderungan atom berikatan untuk mencapai kestabilan, sebagai berikut:
Atom selalu ingin mencapai kestabilan sehingga berikatan dengan atom lain, yang dimaksud dengan stabil adalah mengikuti kaidah oktet (elektron valensi 8) dan duplet (elektron valensi 2) sama dengan jumlah elektron valensi gas mulia, adapun jenis ikatan yang mungkin terbentuk adalah:
a. Ikatan ion
Ikatan ion membentuk senyawa ion dari penggabungan unsur elektropositif yang membentuk kation dengan unsur elektrongatif yang membentuk anion
b. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen merupakan ikatan yang terbentuk karena pamakaian pasangan elektron bersama membentuk senyawa kovalen yang terdiri dari kovalen polar dan nonpolar. Dapat dibedakan atas, ikatan kovalen tunggal, ikatan kovalen rangkap dua, dan ikatan kovalen rangkap tiga.
Ikatan Kovalen terdiri dari, ikatan kovalen murni, ikatan kovalen yang terbentuk karena kedua atom yang berikatan masing-masing menyumbangkan elektronnya untuk pemakaian bersama, dan ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen yang terbentuk karena pada pembentukan ikatan pasangan elektron yang digunakan bersama hanya berasal dari salah satu atom yang berikatan.

c. Ikatan Logam
Ikatan logam adalah gaya tarik ion positif atom-atom logam dengan lautan elektron, Lautan electron pada Kristal logam memegang erat ion-ion positif pada logam sehingga bila dipukul atau ditempa logam tidak akan pecah tercerai-berai tetapi akan menggeser dan menyebabkan logam dapat ditempa, ulet, dan bahkan bisa diulur menjadi kawat. Logam juga mempunyai electron valensi yang dapat bergerak bebas dari satu ion positif atom ke ion positif atom lainnya menjadikan logam sebagai penghantar listrik dan kalor yang baik. Hal inilah yang memberikan sifat khas pada logam
Ikatan-ikatan antaratom tersebut disajikan lebih jelas dengan menggunakan Lambang Lewis dan menjelaskan pula pengecualian kaidah oktet seperti yang terjadi pada BCl3.
B. KERANGKA PIKIR
Proses belajar mengajar membutuhkan proses menyimpan informasi. Namun sebagai manusia, siswa tidak mampu langsung menyimpan semua informasi dalam otaknya oleh karena itu, diperlukan cara untuk menyimpan informasi tersebut dan dapat diambil dengan mudah ketika diperlukan oleh siswa, cara tersebut adalah mencatat. Berdasarkan kajian teori, maka diperlukan sebuah cara mencatat siswa yang dapat menuangkan semua pemikiran secara terstruktur ke atas kertas. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memilih model pembelajaran yang tepat. Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran mind mapping di mana dalam hal ini diterapkan pada materi pokok ikatan kimia
Cara mencatat yang selama ini dikenal adalah mencatat tradisional, yaitu mencatat linear panjang. Cara ini sering dilakukan siswa sebagai rutinitas saja, tanpa mengerti apa yang dicatatnya demikian pula siswa sering malas mempelajari kembali catatanya karena begitu panjang dan padat catatan itu. Pembelajaran model mind mapping memperkenalkan cara mencatat model lain yaitu, cara mencatat yang dapat memperjelas topik-topik utama materi pelajaran terutama materi berupa bacaan yang banyak membutuhkan catatan panjang dan analisis siswa seperti ikatan kimia, dapat membantu siswa mengolah dan menyimpan informasi ke dalam memori jangka panjangnya, memperkenalkan cara mencatat dengan strategi kognitif melalui teknik visualisasi verbal ke dalam gambar dengan metode pengembangan kegiatan berpikir, dapat menyederhanakan masalah yang kompleks. Selain itu, pembelajaran model mind mapping menawarkan cara belajar berkelompok yang memungkinkan siswa bertukar pikiran satu dengan yang lain sehingga mind map siswa tidak terlalu bervariasi dan mempermudah guru mengontrol dan mengarahkan siswa. Warna-warni tinta yang digunakan memberi kesan pada mata sehingga lebih mudah diingat. Selain itu, dapat menggambarkan pemikiran seseorang tentang suatu materi yang digambarkan secara terstruktur dari tengah kertas sebagai pusat pemikiran dan diperluas oleh cabang-cabang pemikiran sampai materi diulas secara keseluruhan namun hanya menggunakan kata-kata kunci sebagai inti dari materi sehingga mempermudah guru untuk mengklasifikasikan siswa yang mengerti materi dan yang tidak mengeri. Model pembalajaran mind mapping cocok untuk semua jenis mata pelajaran, namun lebih efisien pada pelajaran yang berupa bacaan seperti pada ikatan kimia dibandingkan pada pelajaran berhitung.
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka penggunaan pembelajaran model mind mapping menuntut siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena hasil mind
mapping tergantung pada apa yang siswa ketahui, hasil mind mapping secara berkelompok akan dipersentasikan di depan kelas dan hasil mind mapping secara individual merupakan tugas di setiap pertemuan.
C. HIPOTESIS PENELITIAN
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pengaruh penggunaan model pembelajaran mind mapping lebih besar daripada pengaruh penggunaan model konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Frater Makassar pada materi pokok Ikatan Kimia.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. JENIS DAN DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang digunakan adalah posttest-only control group desain. Dalam desain ini subjek ditempatkan pada kelompok control dan kelompok eksperimen secara acak oleh karena dianggap kedua kelompok ekivalen dalam segala hal. Hal ini berarti jika terdapat perbedaan setelah diberi perlakuan, maka perbedaan tersebut disebabkan oleh perlakuan yang diberikan. Desain penelitian digambarkan sebagai berikut:
Keterangan :
R = Kelas acak
E = Kelompok eksperimen
(R) → E X1 Y1
(R) → K X2 Y2
K = Kelompok control
X1 = Model mind mapping
X2 = Model konvensional
Y1 = Tes akhir kelompok eksperimen
Y2 = Tes akhir kelompok kontrol
(Sudjana.2004.38)

B. VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL
1. Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri atas variable bebas dan variable terikat. Variabel bebasnya adalah model pembelajaran mind mapping dan model pembelajaran konvensional. Sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar siswa pada materi ikatan kimia.
2. Definisi Operasional Variabel
a. Variabel bebas
1. model pembelajaran mind mapping adalah model pembelajaran yang menggunakan cara mencatat materi pelajarannya dengan menggunakan tinta warna warni dan mencatat dimulai dari tengah kertas kemudian dikembangkan melalui cabang-cabang pemikiran dengan menggunakan kata-kata yang dianggap penting dalam materi tersebut.
2. Pembelajaran model konvensional adalah model pembelajaran yang menggunakan cara mencatat tradisional dengan mencatat seluruh materi secara linear panjang.
b. Variabel terikat
Hasil belajar adalah nilai yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar mengajar pada materi pokok ikatan kimia.

C. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Frater Makassar tahun ajaran 2009/2010 berjumlah 152 orang, yang terbagi ke dalam 4 kelas yang homogen.
2. Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara random sampling, dari 4 kelas diambil 2 kelas secara acak.
D. PROSEDUR PENELITIAN
Pelaksanaan penelitian ini terdiri atas beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap persiapan
Sebelum dilakukan proses belajar-mengajar dilakukan beberapa persiapan, yaitu:
a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk materi ikatan kimia
b. Menyusun instrumen berupa materi ajar, Lembar Kerja Siswa, dan test hasil belajar yang terdiri atas soal essay
2. Tahap pelaksanaan
Proses belajar mengajar dilakukan sebanyak empat kali pertemuan dengan urutan pelaksanaan sebagai berikut:
Melaksanakan proses belajar mengajar dengan menggunakan model mind mapping pada kelompok eksperimen dan model konveksional pada kelompok kontrol selama tiga kali pertemuan. Langkah-langkah yang dilakukan pada setiap pertemuan dapat dilihat pada tabel 3.1 berikut:
Tabel 3.1 Langkah-langkah pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
Kelas eksperimen
(model pembelajaran mind mapping) Kelas kontrol
(model pembelajaran konvensional)
1. Membagi siswa ke dalam beberapa kelompok yang terdiri atas 6 orang dalam satu kelompok
2. Menuliskan indikator yang ingin dicapai
3. Memberikan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan indicator
4. Siswa mendiskusikan permasalahan dan membuatkan mind mapnya
5. Persentase mind mapping yang dibuat berkelompok
6. Siswa membuat mind maping secara individual sesuai hasil diskusi kelas sebagai kesimpulannya
7. Evaluasi dan refleksi 1. Menuliskan indikator yang ingin dicapai
2. Menjelaskan materi
3. Memberikan soal latihan pada siswa
4. Memberikan kesempatan untuk bertanya
5. Kesimpulan
6. Evaluasi

E. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan memberikan posttest, untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap kelompok eksperimen. Instrumen yang digunakan mencakup semua indikator yang harus dicapai oleh siswa pada materi ikatan kimia. Test hasil belajar siswa disusun dalam bentuk essay terdiri atas 5 nomor
F. TEKNIK ANALISIS DATA
Penggolongan data hasil penelitian menggunakan dua teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan inferensial.
1. Analisis statistik deskriptif
Analisi statistik deskriftif hasil belajar siswa pada materi pokok ikatan kimia untuk kelas eksperimen, yang terdiri dari skor rata-rata (mean), standar deviasi, skor tertinggi dan terendah. Data hasil belajar siswa kemudian dikategorikan dalam kategori tuntas dan tidak tuntas berdasarkan kriteria ketuntasan minimal (KKM) di SMU Frater Makassar untuk materi pokok ikatan kimia, yaitu:
Tingkat penguasaan kriteria
< 65 tidak tuntas
65 -100 tuntas

2. Analisi statistik inferensial
Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian. Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.
a. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji distribusi data setiap variabel, dengan menggunakan analisis X2.

Rumus yang digunakan:

Kriteria pengujian normalitas, X2 hitung < X2 tabel, maka data terdistribusi normal. (Subana, dkk.2000:124,126)
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh homogen uji dilakukan dengan menggunakan uji varians
Rumus yang digunakan :

Kriteria pengujian homogenitas, F hitung t tabel, terdapat pengaruh.
Melalui bantuan program computer SPSS for Windows menggunakan univariate test dengan criteria pengujian hipotesis, p > α, terdapat pengaruh.

Hello world!

April 17, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!